Ketika Anak Manufaktur Mikron Tersesat di Dunia Poni Gorden Spanyol
Kalau ada mesin waktu, saya ingin kembali ke tanggal 15 Januari 2012 dan menepuk pundak anak muda di foto ini sambil berbisik, "Selamat, idealisme mesin bubutmu resmi tergusur oleh rumbai-rumbai gorden!" 😅
Foto di atas adalah satu-satunya artefak sejarah berharga yang berhasil saya selamatkan dari akun Facebook lama saya yang sudah terkunci selamanya oleh sistem. Bagi orang awam, ini adalah foto mahakarya gorden hijau neon dengan poni model Spanyol berkelok-kelok lengkap dengan rumbai rajut krem penyejuk mata. Tapi bagi saya, foto ini adalah bukti otentik sebuah "kecelakaan karier" yang paling menguntungkan dalam hidup.Bayangkan saja kontrasnya. Tahun 2007, saya adalah anak magang Teknik Perkakas di POLMAN Bandung. Otak saya dijejali rumus kepresisian logam, toleransi ukuran skala mikron, cara menjinakkan mesin CNC canggih, hingga sistem robotik industri. Harapan sanak saudara dan keluarga? Ya minimal jadi insinyur elite yang memakai wearpack bersih di pabrik otomotif raksasa sekelas Toyota atau Astra.Tapi takdir memang suka bercanda. Tahun 2012, seorang teman menawari proyek dekorasi interior di kawasan Kota Baru Parahyangan. Alih-alih memegang jangka sorong presisi, tangan saya dipaksa memegang meteran gulung toko material dan memilah-milah kelembutan kain gorden. Lahir lah toko offline Mulya Gordyn Cianjur.Saat pertama kali mengerjakan gorden model poni kelok rumbai seperti di foto, jiwa teknik perkakas saya berontak dan menangis di dalam hati. Di kepala saya yang terbiasa dengan hitungan mekanis kokoh, saya malah harus memikirkan: "Ini kerutan poninya sudah aerodinamis belum ya?" atau "Apakah jarak antar rumbai krem ini sudah sinkron dan lurus dengan tarikan gravitasi?" 😅Foto legendaris berlatar hijau ini menjadi saksi bisu transisi ekstrem dari dunia manufaktur industri berat ke dunia dekorasi interior.
Komentar
Posting Komentar